Perekonomian
Indonesia pada saat ini dihadapkan dengan sistem perdagangan bebas. Padahal
Indonesia belum siap menghadapi perdagangan bebas, sebab nilai-nilai dasar
seperti kejujuran, disiplin, visioner, kerjasama, tanggung jawab, peduli dan
adil, belum menjadi landasan para pelaku industri atau ekonomi. Jadi rakyat,
para pelaku industri dan ekonomi di Indonesia tidak siap untuk menerima
perdagangan bebas.
Perdagangan
bebas berpengaruh pada produk lokal yang harus menghadapi serbuan produk negara
lain yang mungkin lebih berkualitas dan murah. Di samping
itu, masih sulitnya pemerintah Indonesia untuk mempercayai pribumi dalam hal
memberikan kemudahan pinjaman modal usaha walau hanya setingkat UKM. Para
pelaku perdagangan bebas tidak akan dapat mengerti atau bahkan
tidak mengerti bahwasanya satu negeri atau kelompok masyarakat dapat
seketika bertumbuh menjadi kaya dengan merugikan negeri atau kelompok lain,
satu kelas dapat merugikan kelas yang lainnya. Karena dalam perdagangan bebas
tidak berlaku lagi kebijakan proteksionis yang bersifat konservatif,
sedangkan sistem perdagangan bebas adalah destruktif. Sehingga akan mampu
membongkar bangunan kebijakan pro rakyat dan negara, pro buruh, sehingga dengan
keadaan itu tergiringlah antagonisme kaum miskin.
Infrastruktur
ditanah air yang belum mendukung untuk menghadapi perdagangan bebas dan kualitas
sumber daya manusia yang masih rendah menjadi pemicu menurunnya tingkat
produktivitas dalam negeri. Kurangnya tingkat kejujuran, kerjasama, peduli dan
adil yang menjadi landasan para pelaku ekonomi di Indonesi juga menjadi kendala
dalam perdagagangan bebas di Indonesia. Ketidak percayaan pemerintah dalam
memberikan kemudahan pinjaman kepada para pelaku usaha kecil di Indonesia juga
merupakan salah satu factor penyebab turunnya produktivitas masyaraka Indonesia.
Sedikitnya mental generasi muda yang ingin menjadi pengusaha dan lebih memilih
hanya menjadi budak yang disebabkan kurikulum pendidikan yang telah ditanamkan
pada masyarakat Indonesia sejak kecil yang pada akhirnya pengenalan dunia usaha
tidak tertanam sejak dini. Itu semua merupakan factor yang mempengaruhi
menurunnya tingkat produktivitas dalam negeri.
Banyaknya
pesaing dari luar yang menawarkan berbagai macam produk yang tidak kalah bagus
dengan produk dalam negeri, serta dengan harga yang lebih murah menjadikan
masyarakat Indonesia lebih senang memilih produk luar negeri. Selain karena
gengsi, factor kualitas juga mempengaruhi minat masyarakat untuk memilih produk
luar negeri dibandingkan produk dalam negeri. Dengan hal tersebut, maka produk produk dalam negeri yang dihasilkan
akan kalah bersaing dengan produk luar negeri. Menurunnya daya minat masyarakat
terhadap produk local juga akan berdampak pada menurunnya produktivitas dalam
negeri. Dimana para pengusaha local akan berhenti berproduksi dikarenakan
barang yang mereka hasilkan kalah bersaing dengan produk luar negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar